OBAT GENERIK DAN OBAT PATEN, sama atau berbedakah ??

Beberapa tahun yang lalu ketika saya masih bekerja di apotek, sering saya jumpai pasien yang sangat fanatik dengan satu nama obat tertentu. Beberapa dari mereka terkadang telah mendatangi 3,4 atau 5 buah apotek hanya untuk mencari obat dengan nama yang sesuai/ persis dengan yang tertera di dalam resep mereka. Sebagai mana kita ketahui bahwa obat yang tertulis di resep lebih banyak dalam nama dagangnya dibandingkan nama generiknya. Kerena saya berprofesi sebagai seorang apoteker/ farmasis yang memang memfokuskan diri untuk menggeluti tentang obat, terkadang saya merasa prihatin dengan apa yang sebagian pasien/konsumen obat alami tersebut. Rasa prihatin saya timbul karena seharusnya pasien tersebut tidak perlu melakukan itu. Mereka tidak mutlak harus menggunakan obat dengan nama yang persis sama dengan yang ada di resep. Saya dan teman-teman lain yang bekerja di apotek bukannya diam saja, melainkan kami selalu menyikapi kondisi ini dengan memberikan informasi kepada pasien tersebut sebagai mana seharusnya. Sebagian pasien bisa menerima, sebagian lain tidak. Saya berupaya untuk berbaik sangka, barang kali mereka bersikap seperti itu karena belum memahami dengan paripurna tentang obat yang sedang mereka gunakan.

 

Kejadian seperti di atas semestinya tidak perlu terjadi jika seluruh pengguna obat memahami dan mengenal obat dengan baik. Salah satu cara mengelompokkan obat yakni dari nama obat tersebut dijual di pasaran. Obat dapat dikelompokkan ke dalam obat generik, obat bermerek. Obat bermerek ini bisa dibedakan lagi menjadi generik bermerek dan orisinil.

  • Obat bermerek orisinil **** Untuk lebih mudahnya kita sampaikan dalam contoh berikut. Amoksisilin 500 mg adalah obat yang dikenal sangat luas oleh masyarakat. Obat ini pertama kali diproduksi oleh penemu pertamanya dengan nama Amoxil ( nama patennya ). Sesuai dengan peraturan tentang paten khususnya dalam bidang farmasi, dalam jangka waktu tertentu ( misalnya selama 20 tahun ), amoksisilin dengan nama Amoxil ini saja yang bisa dipasarkan ke masyarakat. Ini tentunya merupakan upaya untuk menghargai hak cipta bagi penemu yang memang telah mengeluarkan upaya yang sangat besar untuk menemukan obat tersebut baik waktu, tenaga dan biaya. Dengan perlindungan seperti itu diharapkan modal yang dikeluarkan dalam upaya menemukan obat tadi bisa kembali ditambah dengan keuntungan tentunya. Amoxil ini yang kita sebut obat bermerek orisinil atau paten.
  • Obat generik bermerek **** berdasarkan pengalaman saya selama ini, yang dianggap obat paten oleh masyarakat kebanyakan adalah obat generic bermerek ini. Memang nama obat tersebut adalah nama paten mereka masing-masing. Tapi ada yang agak kurang pas dipahami oleh sebagian orang bahwa terkadang mereka menganggap bahwa paten artinya poten atau ampuh. Contoh obat dalam kategori ini yang paling banyak. Kita ambil contuh amoksisilin 500 mg tadi. Setelah masa hak patennya habis ( umpamanya setelah 20 tahun ), maka pabrik manapun bisa membuat produk obat yang mengandung amoksisilin tadi. Mungkin karena obat ini sangat banyak dibutuhkan, maka di Indonesia produk obat dengan kandungan amoksisilin ini diproduksi oleh banyak pabrik. Ada lebih dari sepuluh obat yang mengandung amoksisilin dengan dosis yang sama, misalnya amoxsan, kalmoxilin, kimoxil, dan lain sebagainya. Ditinjau dari segi khasiat, karena obat yang dikandung dan dosisnya sama, tentunya khasiatnya akan sama pula. Indonesia memiliki sekitar 200 san pabrik obat dengan jumlah obat yang beredar sekitar 16 ribuan merek.
  • Obat generik **** Kelompok obat ini terkadang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Harganya yang murah sering membuat orang ragu akan khasiatnya. Obat generik adalah obat yang dijual dengan nama sesuai dengan nama obat yang dikandungnya. Contonya adalah Amoksisilin dijual juga dengan nama amoksisilin. Produk dengan nama generik inipun diproduksi oleh lebih dari satu pabrik obat. Hukum pasar akan berlaku, ada permintaan maka akan ada suplai. Selagi obat tersebut bakal laku, maka pabrik tentu akan semangat untuk memproduksinya. Berbeda dengan dua kelompok sebelumnya, obat generik mendapat subsidi dari pemerintah sehingga harga penjualannya bisa lebih murah ( harga penjualannya juga diatur pemerintah ). Tantang khasiat selagi kandungan obatnya sama, maka khasiatnya tentunya sama pula.

 

Untuk harga obat pada dua kelompok pertama diserahkan kepada pabrik produsennya sehingga terkadang terdapat variasi harga yang jukup mencolok baik antara sesama produk obat bermerek terlebih lagi jika dibandingkan dengan obat generik. Kalau kita urutkan, maka yang paling mahal adalah obat bermerek orisinil, diikuti oleh generik bermerek dan yang paling murah adalah obat generik. Terkadang harga obat generik bisa mencapai seperlima atau bahkan ada yang sepersepuluh obat bermerek. Suatu perbandingan harga yang menurut saya sangat tidak wajar. Benar kata iklan layanan masyarakat yang disampaikan oleh pemeritah “ yang penting dalam menggunakan obat adalah kandungan obatnya, bukan mereknya “.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: