OBAT GENERIK YANG BEREDAR DI INDONESIA

              Saat ini seiring dengan semakin majunya teknologi informasi tentunya sudah semakin banyak masyarakat yang mengetahui tentang obat generik. Sekedar mengingatkan kembali bahwa obat generik adalah obat yang penamaannya ditulis sesuai dengan nama bahan utama/ zat aktif/ zat berkhasiat obatnya. Misalnya tablet amoksisilin merupakan obat generik sedangkan amoxil atau amoksan yang keduanya mengandung amoksisilin adalah produk obat dengan nama dagang. Sekali lagi kami ingin mengingatkan di sini bahwa istilah obat paten yang selama ini dipahami masyarakat kurang tepat. Karena paten oleh sebagian masyarakat diidentikkan dengan lebih ampuh sehingga ada yang menganggap wajar jika harganya jauh lebih mahal dibandingkan produk generik. Obat dengan nama dagang yang namanya dipatenkan bisa kita kelompokkan menjadi dua. Obat orisinil yakni obat dengan nama paten yang merupakan produk pertama/ penemu obat tersebut. Yang kedua adalah obat dengan nama paten tapi bukan merupakan produk yang pertama untuk obat tersebut, obat ini kita sebut dengan obat generik bermerek. Contoh obat generic bermerek ini sangat banyak di Indonesia antara lain panadol, amoksan, kimoxil, santibi, dan lain sebagainya.

              Kembali ke persoalan obat generik. Obat generik adalah obat yang harganya diatur oleh pemerintah melalui peraturan menteri kesehatan ( permenkes ), tentunya peraturan ini bertujuan untuk mengendalikan harga obat generik agar tetap terjangkau oleh segala lapisan masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah. Dengan harga yang terjangkau diharapkan masyarakat tidak sulit untuk memperoleh obat saat mereka menderita suatu penyakit. Permasalahannya sekarang memang belum semua jenis obat diproduksi dalam bentuk generiknya. Beberapa faktor penyebabnya seperti belum berakhirnya masa paten suatu obat orisinil. Seperti yang kita ketahui bahwa pasa paten obat orisinil berlaku selama kurang lebih 20 tahun. Contohnya adalah Viagra. Masa paten Viagra yang belum berakhir tidak memungkinkan produsen obat lain untuk memproduksi obat dengan kandungan zat aktif yang sama baik sebagai obat generik maupun obat generik bermerek. Faktor lain adalah dari sudut pandang bisnis. Harga obat generik yang sangat murah terkadang tidak menarik perhatian produsen obat karena tentunya tidak akan memberi keuntungan yang menarik. Suatu alasan yang sepertinya masuk akal secara logika manusia.

              Sebagai konsumen pada dasarnya tentunya kita menginginkan murahnya biaya kesehatan khususnya biaya obat. Untuk itu tentunya kita perlu mengetahui obat-obat apa saja yang bentuk generiknya telah beredar di Indonesia. Dengan pengetahuan ini kita menjadi memiliki alternatif dalam memilih obat, apakah mau obat orisinil yang harganya kadang selangit, atau obat generik bermerek yang harganya terkadang tidak terpaut jauh dari obat orisinil atau obat generik yang memiliki khasiat sama dengan harga yang jauh-jauh lebih murah. Sekali lagi mengenai khasiat obat generik seperti yang selalu disosialisasikan oleh pemerintah bahwa obat generik memiliki khasiat yang sama dengan yang bukan generik. Jadi dalam hal ini jika terjadi sesuatu berkenaan dengan khasiat obat generik yang misalnya tidak memenuhi syarat, tentunya masyarakat berhak menuntut pemerintah selaku pihak yang memberi izin atas beredarnya obat generik tersebut.

              Departemen kesehatan Republik Indonesia pada bulan Januari 2010 telah mengeluarkan daftar obat generik yang beredar di Indonesia yang mencakup nama obat, bentuk kemasan dan harganya. Ada 431 obat dengan indikasi yang sangat beragam. Dari daftar tersebut terdapat obat untuk  penyakit-penyakit berikut : antimalaria, infeksi cacing, asam urat, penenang, depresi, epilepsi, batuk, hipertensi, asma, antibiotic, maag/ tukak lambung, wasir, migraine, Parkinson, aqua pro injeksi, analgesic/penghilang sakit, vitamin, asam folat, peluruh kencing, infeksi virus, tetes mata, krim berbagai indikasi, alergi, antimuntah, TBC, infeksi jamur, oralit, kencing manis, hipertensi, cairan infus glukosa, rematik, salep mata dan anti kolesterol. Untuk lebih detilnya silahkan di unduh/ download link berikut (http://www.binfar.depkes.go.id/data/files/1265667046_HK.03.01_MENKES_146_I_2010.pdf ).              

              Sebagai pengguna dan calon pengguna obat, ada baiknya kita mengetahui daftar obat-obat generik ini. Kalau kita bisa sembuh dengan biaya yang murah kenapa kita harus membeli yang mahal. Sebagai contoh, sewaktu saya aktif masih aktif di apotek sekitar 2 tahun yang lalu, harga amoksisilin generik bermerek atau orisinil bisa mencapai 3 sampai 7 kali harga obat generiknya. Satu strip generik harganya tidak sampai lima ribu rupiah, sementara generik bermerek atau orisinilnya bisa mencapai 30 ribu rupiah atau lebih untuk jumlah yang sama.                            

PENCEGAHAN HIPERTENSI

              Pola hidup sehat memiliki peranan yang sangat penting baik sebagai pencegahan maupun sebagai terapi awal terhadap hipertensi. Tabel berikut menjelaskan bagaimana pengaturan pola hidup berefek terhadap penurunan tekanan darah sistolik.

Modifikasi Rekomendasi Penurunan tekanan darah sistolik rata-rata
Penurunan bobot badan Pertahankan berat badan ideal ( IMT/ BMI 18, – 24,9 ) 5 – 20 mmHg/ 10 kg penurunan berat badan
Mengadopsi pendekatan diet untuk menstop hipertensi Konsumsi diet kaya dengan buah-buahan, sayuran, dan produk rendah lemak dengan kandungan lemak jenuh dan lemak total yang rendah 8 – 14 mmHg
Pembatasan asupan natrium ( seperti yang terdapat dalam ikan asin, garam dapur ) Penurunan asupan natrium sampai tidak lebih dari 100 mmol/ hari ( setara dengan 2,4 gram natrium murni atau 6 garam natrium klorida ( garam dapur ) 2 – 8 mmHg
Aktifitas fisik ( olahraga ) Melakukan aktifitas fisik aerobic rutin seperti jalan cepat ( paling kurang 30 menit/ hari, setiap hari dlam seminggu 4 – 9 mmHg
Penurunan asupan alcohol Pembatasan asupan alcohol sampai tidak lebih dari 2 kali ( 30 ml etanol ) per hari pada pria dan 15 ml pada wanita atau orang dengan ukuran badan yang lebih ringan atau kecil. ( Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia barangkali ini tidak terlalu menjadi masalah ) 2 – 4 mmHg

               Merokok adalah kebiasaan yang harus dihentikan baik dalam upaya mencegah hipertensi maupun selama pengobatan. Tingginya jumlah perokok baik akti maupun pasif menjadi masalah tersendiri bagi masyarakat Indonesia.

MENGENAL PENYAKIT HIPERTENSI

              Hipertensi atad yang kita sebut dengan penyakit tekanan darah tinggi bukanlah merupakan penyakit yang tunggal melainkan merupakan suatu sindrom dengan multi penyakit. Hipertensi secara umum terbagi menjadi dua yakni hipertensi esensial atau hipertensi primer yakni penyakit hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui dan tipe ini merupakan jumlah yang terbesar. Seiring dengan  Penemuan-penemuan tentang mekanisme penyakit hipertensi belakangan ini semakin memperkecil persentase hiperten jenis ini. Jenis yang kedua adalah hipertensi sekunder yakni hipertensi yang penyebabnya diketahui. Contoh hipertensi yang masuk kategori sekunder adalah hipertensi yang disebabkan oleh gangguan fungsi ginjal, hipertensi akibat penggunaan obat yang mengandung hormone estrogen, dan lain sebagainya. Secara persentase hipertensi esensial yang penyebabnya tidak diketahui mencapai kurang lebih 88% dan sisanya merupakan hipertensi sekunder.

              Kapan seseorang bisa dikatakan mengalami hipertensi? Tensi darah dikatakan normal apabila tekanan sistoliknya < 120 mmHg dan tekanan diastoliknya < 80 mmHg. Kalau kita pernah melihat hasil pengukuran tekanan darah, maka biasa ditulis dengan sistolik/ diastolic ( 120/80 mmHg ). Seseorang yang memiliki tekanan darah antara nilai normal sampai dengan 140/90 mmHg, maka ia dikategorikan sebagai pre hipertensi dan ia memikirkan strategi untuk mulai mengatur pola hidup sehat agar tekanan darahnya bisa terkendali dan kembali normal. Tekanan yang berada di atas nilai pre hipertensi tersebut baru dikatakan sebagai keadaan hipertensi.

              Hipertensi sendiri sebenarnya tidak memberikan gejala-gejala klinis. Sakit kepala, fatigue atau pusing kadang-kadang dianggap sebagai hipertensi, tetapi gejala-gejala seperti ini tidaklah spesifik dan tidak dianggap sebagai gejala hipertensi. Kondisi hipertensi biasanya ditemukan ketika seorang melakukan check kesehatan rutin atau pada saat seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan akibat mengalami komplikasi penyakit yang disebabkan oleh hipertensi. Komplikasi ini meliputi infak miokar ( myocardial infarction ), gagal jantung kongesti, stroke, hipertensi encefalopati, dan gagal ginjal. Kejadian-kejadian seperti ini lah yang menyebabkan kenapa hipertensi disebut sebagai the silent killer “ si pembunuh diam-diam “. Banyak orang yang meninggal akibat hipertensi tanpa di tahu kalau dia mengidap hipertensi. Salah satu penyebabnya adalah karena hipertensi sendiri tidak memberikan keluhan yang spesifik. Banyak kejadian orang yang selama diri merasa dirinya sehat atau dianggap orang lain sehat, tiba-tiba terdengar bahwa ia kena stroke, serangan jantung dan lain sebagainya.

              Penanganan hipertensi meliputi pengaturan pola hidup dan konsumsi obat-obatan antihipertensi. Hipertensi yang diketahui penyebabnya akan lebih mudah diatasi dengan mengatasi penyebabnya. Penangan hipertensi esensial yang penyebabnya tidak diketahui lebih bertujuan kepada bagaimana agar tekanan darah seseorang bisa terkontrol dengan baik. Banyaknya kasus hipertensi esensial pulalah yang menyebabkan kenapa hipertensi ini membutuhkan pengobatan seumur hidup. Alasannya adalah karena penyebabnya tidak diketahui dan tentu tidak bisa disingkirkan. Pengobatan Hipertensi sangat memerlukan kesadaran pasien untuk mematuhi proses terapi agar dapat memberikan hasil yang maksimal dan memperbaiki kualitas hidup pasien

 

MENGENAL BIOEKIVALENSI OBAT

              Kata Bioekivalensi obat barangkali masih sangat asing ditelinga banyak orang terutama bagi orang-orang yang jarang atau tidak terkait langsung dengan obat. Pengertian bioekivalensi obat bisa kita jelaskan secara sederhana seperti ini. Ketika suatu Obat orisinil atau produk pertama pemilik hak paten yang biasanya sekaligus sebagai pihak yang menemukan obat dipasarkan ke tengah-tengah masyarakat, obat tersebut pastinya telah melewati serangkaian pengujian ilmiah/ keilmuan. Pengujian yang antara lain membuktikan bahwa obat tersebut memiliki khasiat seperti yang diharapkan ( khasiat dapat diperkiran sesuai dengan dosis yang digunakan ), aman saat digunakan dalam arti tidak menimbulkan efek negatif yang membahayakan dengan proses pembuatan yang sudah terstandar. Dengan kata lain ketika produk orisinil ini diberikan ke pasien, tenaga kesehatan seperti dokter atau apoteker akan bisa meramalkan efek dari obat tersebut. Ketika masa paten obat orisinil ini berakhir ( sekitar 20 tahun ), maka untuk obat-obat yang banyak dibutuhkan biasanya menarik perhatian pihak produsen lain untuk memproduksi obat dengan bahan aktif/ bahan berkhasiat yang sama dengan proses dan bahan tambahan yang tentunya tidak sama. Produk terakhir yang kita kenal dengan obat generic atau generic bermerek ini agar memiliki khasiat dan keamanan yang sama dengan obat orisinilnya, maka mereka harus memenuhi syarat bioekivalen. Artinya ketika seorang pasien mengkonsumsi suatu obat, baik yang berupa produk orisinil maupun generiknya, pasien tersebut akan mendapatkan efek yang sama.

              Kenapa bioekivalensi obat ini menjadi penting? Apabila obat orisinil dan obat generic diberikan ke pasien dalam bentuk zat berkhasiat murni tanpa bahan tambahan lain, bioekivalensi tidak akan menjadi masalah karena dapat dipastikan kedua obat tersebut akan memberikan efek yang sama. Dalam prakteknya tidaklah seperti itu, karena obat tidak hanya terdiri dari zat berkhasiat saja, melainkan dicampur dengan bahan-bahan lain. Di samping perbedaaan terhadap bahan tambahan, perbedaan dalam proses pembuatan juga akan mempengaruhi suatu obat. Maka mungkin kita pernah mendengar atau mengalami ada dokter yang hanya mau memakai obat berek tertentu yang mungkin salah satu alasannya adalah masalah keyakinan ini.

              Di negara maju seperti Amerika Serikat, ketika produk generic dari suatu obat orisinil dibuat, sebelum dijual di pasaran, obat generic tersebut harus lolos uji bioekivalensi obat. Hal ini bertujuan untuk melindungi masyarakat terhadap efek obat. Bagaimana dengan di Indonesia? Sepengetahuan saya, syarat bioekivalensi obat ini belum menjadi sebuah persyaratan. Alasan utamanya adalah besarnya biaya yang dibutuhkan oleh produsen obat untuk melakukan pengujian bioekivalensi obat ini. Pengujian bioekibalensi obat ini melibatkan manusia sebagai objek percobaan. Secara singkat terhadap manusia yang menjadi objek percobaan tadi diberikan obat orisinil dan obat generic dalam waktu yang tentunya tidak bersamaan. Kemudia sample darah orang tersebut diambil untuk seterusnya dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat tertentu. Kemudian hasil kedua sample ( orisinil dan generic ) dibandingkan. Apabila sama maka obat generic tersebut dinyatakan bioekivalen dengan obat orisinilnya dan tentunya akan memberikan efek yang sama saat digunakan.

MENGENAL BENTUK OBAT

Obat sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok kita. Di saat kita mendengar salah seorang teman yang lagi sakit, hal pertama yang biasanya kita tanyakan adalah apakah teman tersebut sudah minum obat?  Di sebagian kalangan masyarakat terkadang obat identik dengan pil. Barangkali karena sejak dahulu, obat yang dikonsumsi oleh m,anyarakat memang terbanyak dalam bentuk pil sehingga istilah pil tersebut sangat populer di tengah masyarakat.

 

Selain dalam bentuk pil, obat diproduksi dalam beberapa bentuk yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Bentuk obat tersebut dapat kita kelompokkan sebagai berikut :

  • Obat injeksi/ suntikan ( parenteral ). Obat jenis ini berupa cairan yang dikemas dalam wadah kaca berupa ampul ataupun vial. Kelebihan dari obat jenis ini adalah efek yang ditimbulkannya lebih cepat terutama yang langsung disuntikkan ke pembuluh darah. Kekurangannya adalah cara penggunaannya yang memerlukan keterampilan khusus seperti oleh perawat atau dokter.
  • Obat oral. Kelompok obat ini merupakan obat yang penggunaannya paling banyak. Hal ini disebabkan cara pemakaiannya yang lebih nyaman dibandingkan obat suntik. Kelemahannya adalah efek obat lebih lama dibandingkan obat suntik serta dosis yang dibutuhkan lebih besar. Kebutuhan dosis yang lebih besar ini disebabkan karena obat sebelum masuk ke pembuluh darah mengalami beberapa proses yang dapat membuat sebagian obat menjadi tidak aktif. Obat oral tersedia dalam bentuk caik ataupun padat. Bentuk cair yang oleh banyak orang disebut sirup yang juga ada dalam beberapa bentuk ( larutan, suspensi basah, suspensi kering ). Sedangkan bentuk padatan berupa tablet, kapsul, dan pil. Obat dalam bentuk caik memberikan efek yang lebih cepat dibandingkan bentuk padat. Dari cara penggunaannya bentuk padat ini ada yang ditelan sehingga masuk ke lambung dan ada pula yang hanya diletakkan di bawah lidah sampai melarut oleh air ludah. Ada juga yang dihisap sebelum ditelan disamping dikunyah seperti tablet obat maag.
  • Obat tetes hidung, tetes mata dan tetes telinga. Sesuai dengan namanya maka obat jenis ini ada dalam bentuk larutan yang penggunaannya dengan cara meneteskan ke dalam bagian tubuh yang sakit.
  • Obat dalam bentuk suppositoria. Penggunaan obat jenis ini yakni dengan cara memasukkan/ menanamkan ke dalam lubang anus ataupun lubang kemaluan. Misalnya suppositoria untuk obat keputihan, ambeyen dan sebagainya.
  • Obat inhalasi dan spray yaitu obat yang penggunaannya dengan cara dihirup atau disemprot seperti pada pengobatan asma.
  • Obat oles yakni obat yang digunakan dengan jalan mengoleskannya ke bagian luar tubuh seperti kulit. Tersedia dalam beberapa bentuk yakni salep, krim, lotion

MENGENAL DOSIS OBAT

Mungkin sebagian dari kita sudah tidak asing dengan istilah dosis ini. Dosis bisa diartikan dengan jumlah obat yang harus digunakan dan dinyatakan dalam satuan tertentu. Satuan yang paling banyak digunakan adalah milligram (mg), satuan yang lain bisa microgram, internasional unit ( IU ) untuk vitamin, dan lain sebagainya. Contoh : bagi orang dewasa dosis lazim dari obat penurun panas/ penghilang sakit parasetamol adalah 500 mg. Contoh lain adalah digoksin, salah satu obat jantung, dosisnya hanya 0,5 mg. Beda obat beda pula dosisnya. Besarnya dosis suatu obat didapatkan dari hasil penelitian yang tidak singkat.

 

Dalam dunia kedokteran dan farmasi dikenal istilah beberapa jenis dosis, yaitu :

  • Dosis lazim yaitu jumlah dosis acuan pemakaian obat. Dosis ini akan memberikan khasiat sesuai dengan yang diharapkan
  • Dosis maksimal yaitu dosis terbesar yang masih bisa digunakan oleh seorang pasien baik dalam setiap kali pemakaian ataupun setiap harinya.
  • Dosis toksik/ racun yaitu dosis obat yang melampui dosis maksimalnya. Seperti kita ketahui bahwa dalam dunia pengobatan beda antara obat dan racun hanya terletak pada jumlah dosisnya.

Jika obat digunakan dibawah dosis lazimnya, maka suatu obat tidak akan cukup memberikan khasiat sedangkan apabila dosis yang diberikan melebihi dosis maksimalnya maka efek racun dari suatu obat akan terjadi pada penggunanya.

 

Ketepatan jumlah dosis menjadi salah satu bagian yang paling penting dalam memperoleh khasiat dari obat tersebut. Informasi mengenai dosis obat dapat diperoleh dari etiket atau brosur yang disertakan pada suatu produk obat atau dengan menanyakannya pada apoteker anda. Penggunaan dosis dibawah dosis lazim sering terjadi tanpa kita sadari. Kejadian yang paling sering adalah saat kita menggunakan obat dalam bentuk sirup dengan menggunakan sendok makan yang ada di rumah. Perlu diketahui bahwa sendok rumah tidak memiliki ukuran volume yang standar. Suatu ketika saya pernah mengukur tiga jenis sendok makan yang ada di rumah, hasilnya volume ketiga sendok tersebut berbeda, yakni antara 7 sampai 10 mililiter. Padahal ketika di etiket obat dikatakan satu sendok makan, maka itu artinya setara/sama dengan 15 mililiter. Sehingga tindakan yang paling tepat ketika kita menggunakan obat dalam bentuk sirup adalah mengukurnya dengan menggunakan sendok takar obat, bukan sendok makan atau sendok the yang ada di rumah.

 

Keracunan obat bisa terjadi karena dosis yang diminum melebihi dosis anjuran. Misalnya karena merasa ingin cepat sembuh, dosis obat yang seharusnya satu tablet diminum menjadi 2 tablet. Untuk obat-obat tertentu tindakan ini mungkin tidak menimbulkan masalah karena mungkin saja dosis tersebut masih berada di bawah dosis maksimalnya. Tetapi untuk obat lain, akibatnya bisa sangat fatal. Karena di dunia kedokteran dan farmasi dikenal obat yang memiliki indeks terapi sempit. Artinya peningkatan dosis sedikit saja dari obat bisa berefek racun.

Ingin benar menggunakan obat ? Bicarakan dengan Apoteker Anda

Dapatkan yang terbaik dari obat anda

Pernahkah anda pergi ke apotek untuk menebus obat dan meninggalkan apotek tersebut tanpa mengerti bagaimana menggunakan obat-obat tersebut dengan benar?

Pernahkah anda berputar-putar di sekililing rak-rak apotek, membaca seluruh petunjuk yang ada di setiap kemasan obat dan masih merasa tidak yakin apakah anda membeli obat yang benar untuk mengatasi keluhan yang sedang anda alami?

Apoteker anda secara rutin memberikan informasi mengenai obat anda, tetapi terkadang anda harus meminta kepada mereka tentang saran atau penjelasan yang lebih mendalam tentang obat tersebut. Jangan pernah tinggalkan apotek sampai anda benar-benar  mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di benak anda. Apoteker adalah ahli dalam bidang obat dan akan membantu anda untuk memperoleh manfaat yang terbaik dari obat anda.

Mengambil tanggung jawab

Menggunakan obat dengan benar sangat penting, jika tidak anda mungkin akan mendapatkan resiko  dengan kesehatan anda. Laporan dari negara-negara yang sudah maju dalam bidang kesehatannya seperti Amerika Serikat dan Kanada, tiap tahun banyak orang yang kehilangan waktu bekerja, berakhir di rumah sakit atau bahkan meninggal karena mereka tidak menggunakan obatnya dengan cara yang benar, melewatkan dosis atau tidak menghabisakan obat yang telah diberikan. Biaya yang ditimbulkan akibat kesalahan ini sangat tinggi.

Penting bagi anda mengambil tanggung jawab terhadap masalah pengobatan anda dengan mempelajari tentang kondisi anda dan bagaimana meenggunakan obat dengan benar sehingga anda mendapatkan hasil yang terbaik darinya.

Apoteker anda memiliki jawaban

Baik  anda sedang menebus obat yang ada di resep atau obat yang dapat dibeli bebas di swalayan farmasi untuk mengobati penyakit yang sedang anda derita, jangan pernah meninggalkan apotek sebelum anda mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak anda. Pertanyaan tersebut bisa seperti berikut ini :

  • Kenapa saya harus mengkonsumsi obat ini ?
  • Bagaimana cara saya menggunakannya ?
  • Bagaimana cara saya mengetahui kalau obat tersebut bekerja ?
  • Kapan saya akan merasa baikan ?
  • Efek samping apa yang mungkin saya alami? Apa yang seharusnya saya lakukan ?
  • Kapan saya harus ke dokter ?
  • Apa yang harus saya lakukan jika saya lupa minum obat ?
  • Dimana saya harus menyimpan obat saya?
  • Makanan, alcohol atau obat lain apa yang harus saya hindari saat menggunakan obat ini?
  • Bagaimana cara saya mengingat waktu minum obat?
  • Akankan obat ini membuat saya pusing?
  • Dapatkah saya menggunakan obat ini jika saya hamil atau menyusui?
  • Saya sedang menggunakan tiga obat lain, bolehkah saya menggunakannya secara bersamaan ?
  • Apakah 4 kali sehari sama dengan sekali tiap 6 jam?
  • Adakah obat lain yang lebih murah yang bisa saya gunakan?
  • Apakah saya menggunakan inhaler dengan benar?
  • Dapatkah saya memperoleh obat saya dalam wadah yang lebih mudah untuk dibuka?
  • Adakah obat lain yang bisa saya gunakan sehingga mempemudah saya menelannya?
  • Obat bebas mana yang paling sesuai untuk mengatasi masalah kesehatan saya?
  • Which is the best nonprescription medicine for my symptoms?

Jalin hubungan dengan apoteker anda

Selalu kunjungi apotek yang sama sehingga catatan tentang pengobatan anda berada pada satu tempat. Semakin baik apoteker mengenal anda, semakin bia ia bisa membantu anda damal membuat  pilihat terbaik terhadap masalah pengobatan anda.

Apoteker anda adalah

  • Orang yang ahli dalam pengobatan anda
  • Memantau terapi pengobatan anda
  • Mengecek resep anda untuk memastikan ketepatan obat, dosis dan instruksi/petunjuk yang terbaik bagi anda
  • Memberikan saran terhadap cara menghilangkan keluhan-keluhan anda tanpa menggunakan obat
  • Membantu anda memilih obat-obat bebas atau produk kesehatan lainnya
  • Memberikan saran dan informasi tentang masalah-masalah kesehatan yang lebih luas
  • Menyimpan rekaman komputer dari obat-obat yang sedang anda gunakan

Apoteker adalah tenaga professional kesehatan yang memiliki izin dengan telah menempuh pendidikan dan pelatihan selama paling sedikit 5 tahun di universitas. Apoteker adalah sumber ahli bagi anda, dokter, perawat dan profesi kesehatan lainnya.  Apoteker bisa bekerja di tempat-tempat berikut : apotek/ toko obat, rumah sakit, universitas, perusahaan farmasi, pemerintahan, organisasi

Ada beribu-ribu obat yang beredar di pasaran. Apoteker adalah profesi yang mengikuti perkembangan terbaru dari obat-obatan.

MINUM OBAT ??? HATI-HATI DENGAN JUS GRAPEFRUIT

Yang namanya minum satu atau beberapa gelas jus grapefruit tentunya enak dan menyegarkan, disamping tentu saja menyehatkan. Kandungan gizi yang ada pada jus buah seperti vitamin maupun mineral sangat diperlukan oleh tubuh kita. Grapefruit jus barangkali tidak terlalu umum dikonsumsi oleh masyarakat kita. Buah yang termasuk ke dalam jenis jeruk ini memang merupakan buah daerah subtropis. Seiring dengan perkembangan dunia yang semakin tanpa batas, buah ini tentunya juga bisa kita temukan di negeri kita. Berikut gambar buah grapefruit tersebut.

 

Buah ini menjadi perhatian di bidang pengobatan karena dari hasil penelitian diketahui bahwa minuman jus yang diperoleh dari perasan buah ini bisa mempengaruhi efek dari suatu obat. Dengan kata lain obat dan jus grapefruit apabila digunakan secara bersamaan bisa berinteraksi. Cukup banyak obat yang telah diketahui berinteraksi dengan jus grapefruit. Beberapa contoh dari interaksi tersebut adalah sebagai berikut :

  • interaksi yang bermakna : artinya ketika jus grapefruit diminum bersamaan atau berdekatan dengan obat, efek obat bisa menjadi sangat meningkat atau sangat menurun. Sangat meningkat berarti efek obat bisa mencapai dosis toksik atau dosis racunnya sehingga efek samping obat dan efek toksisnyapun meningkat. Sangat menurun berarti obat bisa saja menjadi tidak berkhasiat ( sia-sia minum obat tersebut ). Pada kondisi ini maka konsumsi obat dan jus secara bersamaan atau berdekatan harus dihindari. Contoh obat-obatnya adalah obat hipertensi ( amlodipin, amlodipin, felodipin, nifedipin, ) , obat kolesterol ( atorvastatin, lovastatin, simvastatin ), obat antidepresi ( karbamazepin ), antibiotik ( siklosporin )
  • Interaksi yang tidak bermakna : artinya dari hasil penelitian, jus tersebut dapat mempengaruhi efek suatu obat tetapi dampaknya terhadap khasiat obat tidak cukup berarti. Pemakaian jus dan obat secara bersamaan tidak menimbulkan masalah. Contoh obatnya adalah obat lambung ( lansoprazol, omeprazol ), obat hipertensi ( losartan ), dll
  • Tidak berinteraksi sama sekali.

Mengingat potensi interaksi jus ini terhadap obat, maka langkah terbaik bagi pengguna obat agar khasiat dari obat yang sedang digunakan sesuai dengan yang diharapkan adalah mencari informasi tentang kemungkinan interaksi obat tersebut dengan jus grapefruit.

 

SIAPKAN KOTAK OBAT DI RUMAH ANDA

MENYIMPAN OBAT ANDA DENGAN AMAN

  • Simpan semua obat jauh dari anak-anak ( jauh dari penglihatan dan jangkauan )
  • Kotak obat dalam kamar mandi adalah tempat yang paling buruk untuk menyimpan obat-obat anda. Ia bisa menjadi hangat dan lembab
  • Simpan obat obat anda di tempat yang dingin dan jauh dari panas dan cahaya matahari langsung ( seperti sebuah kotak yang bisa dikunci dan tinggi di atas rak atau dinding )
  • Menyimpan obat di lemari es hanya jika diinformasikan pada label obat
  • Simpan obat anda di kemasan aslinya dan pastikan penutupnya tertutup rapat.
  • Jangan menyimpan obat dengan makanan atau barang-barang rumah tangga lainnya.

 KOTAK OBAT ANDA

 Obat-obat dasar yang harus anda miliki di rumah adalah :

  • Obat-obat resep ( yang ditulis oleh dokter ) yang sedang anda gunakan
  • Pereda nyeri dan penurun panas ( parasetamol, jika anda memiliki anak – jangan berikan aspirin kepada mereka kecuali diresepkan oleh dokter )
  • Obat-obat non resep yang sedang anda gunakan
  • Thermometer
  • Sendok obat atau oral liquid syringe – sejenis alat suntik tanpa jarum ( sendok rumah tangga biasa tidak cukup akurat )
  • P3K ( seperti perban, antiseptic untuk pembersih luka )
  • Sunscreen/ tabir surya ( 15 SPF atau lebih )

 BERSIHKAN KOTAK OBAT ANDA

  •   Bersihkan kotak obat anda secara berkala, misalnya tiap akhir tahun
  • Jangan gunakan obat-obat yang sudah lama karena  obat-obat ini mungkin sudah tidak berkhasiat lagi, atau mungkin juga membahayakan kesehatan anda
  • Periksa seluruh obat yang ada di rumah anda dan buang obat-obat yang berikut ini :
  • Obat-obat resep yang sudah lama dan sudah tidak anda gunakan lagi
  • Obat-obat non resep yang sudah tua atau telah kadaluarsa termasuk obat batuk/ flue, obat nyeri, P3K, vitamin dan produk herbal.
  • Obat-obat yang sudah tidak lagi berada di kemasan aslinya atau yang memiliki label yang sudah bisa dibaca lagi
  • Obat-obat yang telah berubah warna, bau atau rasa.

 MENYINGKIRKAN OBAT DENGAN AMAN

  •  Bawa seluruh obat yang tidak bisa digunakan yang telah anda sisihkan ke apotek anda untuk pembuangan yang aman.
  • Jika anda tidak tahu jika suatu obat masih baik, tanyakan kepada apoteker anda
  • Jangan buang obat ke tong sampah – anak-anak atau hewan bisa saja mengambilnya.
  • Jangan buang obat ke toilet, tidak baik bagi lingkungan.

MEMAHAMI INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN

Apa itu interaksi Obat-Makanan?

Tiap saat ketika suatu makanan atau minuman mengubah efek suatu obat, perubahan tersebut dianggap sebagai interaksi obat-makanan. Interaksi seperti itu bisa terjadi. Tetapi tidak semua obat dipengaruhi oleh makanan, dan beberapa obat hanya dipengaruhi oleh makanan-makanan tertentu. Interaksi obat-makanan dapat terjadi dengan obat-obat yang diresepkan, obat yang dibeli bebas, produk herbal, dan suplemen diet. Meskipun beberapa interaksi mungkin berbahaya atau bahkan fatal pada kasus yang langka, interaksi yang lain bisa bermanfaat dan umumnya tidak akan menyebabkan perubahan yang berarti terhadap kesehatan anda.

Bagaimana makanan dan obat berinteraksi?

Makanan dan obat dapat berinteraksi dalam banyak cara yang berbeda. Sering, zat tertentu di dalam makanan memberikan efek. Perubahan-perubahan lain dapat disebabkan oleh jumlah protein dalam diet anda, atau bahkan cara makanan tersebut disiapkan. Salah satu cara yang paling umum makanan mempengaruhi efek obat adalah dengan mengubah cara obat-obat tersebut diuraikan ( dimetabolisme ) oleh tubuh anda. Jenis protein yang disebut enzim, memetabolisme banyak obat. Beberapa makanan dapat membuat enzim-enzim ini bekerja lebih cepat atau lebih lambat, baik dengan memperpendek atau memperpanjang waktu yang dilalui obat di dalam tubuh. Jika makanan mempercepat enzim, obat akan lebih singkat berada di dalam tubuh dan dapat menjadi kurang efekteif. Jika makanan memperlambat enzim, obat akan berada lebih lama dalam tubuh dan dapat menyebabkan efek samping yang tidak dikehendaki.

 Apa saja interaksi Makanan dan Obat yang umum terjadi?

Makanan yang mengandung zat Tyramine ( seperti bir, anggur, alpukat, beberapa jenis keju, dan berbagai daging olahan ) memperlambat kerja enzim yang memetabolisme obat penghambat MAO ( sejenis obat antidepresi ) dan dapat menyebabkan efek yang berbahaya、termasuk tekanan darah tinggi yang serius. Beberapa jenis makanan dapat mencegah obat-obat tertentu untuk diserap ke dalam darah setelah ditelan, dan yang lain sebaliknya dapat meningkatkan penyerapan obat. Contohnya, jika anda meminum segelas susu ketika menggunakan obat antibiotik tetrasiklin, calcium yang ada dalam susu akan mengikat tertrasiklin, membentuk senyawa yang tidak mungkin dapat diserap oleh tubuh ke dalam darah. Sehingga efek yang diharapkan dari obat tetrasiklin tidak akan terjadi. Di sisi lain, meminum segelas jus citrus bersamaan dengan suplemen yang mengandung zat besi akan sangat bermanfaat karena vitamin C yang ada dalam jus akan meningkatkan penyerapan zat besi. Akhirnya, beberapa makanan benar-benar bisa mengganggu efek yang diinginkan dari obat. Contohnya, orang yang menggunakan obat pengencer darah warfarin seharusnya tidak mengkonsumsi secara bersamaan makanan yang banyak mengandung vitamin K seperto brokoli, atau bayam. Vitamin K membantu pembekuan darah, sehingga melawan efek dari obat warfarin. Efek yang sebaliknya terjadi dengan vitamin E, bawang dan bawang putih, karena bahan-bahan ini menghaslkan efek yang mirip dengan efek warfarin. Konsumsi dalam jumlah besar dari makanan ini dapat menyebabkan efek warfarin menjadi terlalu kuat.

 Bagaimana jika saya tidak dibolehkan mengkonsumsi makanan favorit saya ?

 Jika dokter atau apoteker menyarankan anda untuk menghindari makanan tertentu saat menggunakan obat, sangat penting bagi anda untuk menghindari makanan tersebut. Tetapi pilihan lain masih tetap tersedia. Jika anda ada dalam situasi seperti ini, sampaikan masalah ini pada dokter atau apoteker anda. Beberapa interaksi makanan dan obat terjadi hanya jika makanan dimakan pada saat yang sama dengan obat. Anda mungkin saja membuat skedul yang memungkinkan anda menggunakan obat sambil terus mengkonsumsi makanan favorit anda. Contohnya, beberapa obat penurun kolesterol yang dikenal sebagai statin, dapat berinteraksi dengan jus grapefruit. Akan tetapi tidak semua statin memiliki efek seperti ini, dokter anda dapat mengalihkan obat anda ke salah satu dari obat tersebut. Sayangnya, untuk  beberapa obat tertentu, anda perlu menghentikan mengkonsumsi makanan tertentu agar obat anda memberikan manfaat terbaik terhadap kesehatan anda.

 Bagaimana saya mengetahui jika suatu makanan tertentu aman dikonsumsi?

 Untungnya, jumlah interaksi makanan dan obat yang memberikan efek berbahaya sedikit. Meskipun begitu, agar aman, anda harus hati-hati membaca label semua obat yang anda gunakan untuk mengecek interaksinya. Selalulah bicarakan dengan dokter atau apoteker anda tentang makanan ( obat ) yang diketahui berinteraksi. Selain itu, jika obat anda terlihat tidak menghasilkan efek yang diharapkan, atau jika anda mengalami efek samping yang tidak diharapkan, evaluasi diet/ makanan anda dengan dokter atau apoteker untuk mengetahui kemungkinan adanya interaksi obat – makanan.

« Older entries